قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍࣖ ٣٠
qul ara’aitum in ashbaḫa mâ’ukum ghauran fa may ya’tîkum bimâ’im ma‘în
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika (sumber) air kamu surut ke dalam tanah, siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (Al Mulk :30)
Ketika Allah perintahkan kita untuk bersuci, Allah telah siapkan seluruh alat yang bisa kita gunakan. Allah juga persiapkan alat bersuci alternatif bila alat suci yang utama tidak tersedia.
Timbul sebuah pertanyaan kecil yang muncul dalam hati. Kenapa harus ada alat suci pengganti?
Allah menciptakan alam ini dengan mizan yang tepat. Air yang dibawa hujan turun kebumi. Sebagian mengalir menjadi sungai menuju lautan dan sebagian lagi diserap dan dialirkan lewat pori pori tanah. Allah jaga air itu dilapisan bumi agar kita bisa mengambilnya kembali. Bisa saja Allah memerintahkan bumi untuk menyerap air hingga tiada bersisa. Tapi Allah yang Rahman adalah Rob yang mengatur dan memilihara dengan sempurna.
Ketika Allah telah meletakkan mizan yang sempurna pada alam ini, kenapa harus ada pengganti air untuk berwudhu? Bukankah air seharusnya akan selalu ada dan mudah didapat? atau apakah mizan itu akan ada yang merusaknya sehingga kelak air menjadi tidak mudah untuk didapat?
Lihatlah betapa sayangnya Allah kepada manusia. Manusialah yang merusak kesempurnaan mizan itu , tapi Allah masih membuka pintu lain untuk manusia agar dapat bersimpuh menghadapNya. Agar bisa mengakui kesalahan dan memohon petunjuk dan pertolongan.
Bumi tidak mampu menyerap air karena keseimbangan alam manusia rusakkan. Bangunan beton dan aspal menutup pori pori bumi. Segala pohon ditebang demi kepentingan nafsu. Alam yang harusnya seimbang akhirnya mencari keseimbangannya sendiri. Kita menamakanya banjir dan tanah longsor. Sungai menghilang dan air belari menuju lautan. Salah siapakah?
وَالسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الۡمِيۡزَانَۙ ٧ اَلَّا تَطۡغَوۡا فِى الۡمِيۡزَانِ ٨ وَاَقِيۡمُوا الۡوَزۡنَ بِالۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُوا الۡمِيۡزَانَ ٩
Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.
Keseimbangan langit manusia rusakkan. Keseimbangan bumi manusia nodai. Manusia memberi nama efek rumah kaca. Pemanasan global. Disrupsi cuaca terjadi dimana mana. Salah siapakah?
Ketika bersuci maka tanyakan dalam hati. Kemana air ini akan pergi? apakah bercampur dengan limbah dan terbuang meracunir air tanah? Apakah anak cucuku kelak akan bisa menikmati air yang sama? ataukah air semakin rusak dan semakin tidak layak karena ulah kita sendiri?
Bersuci bukan hanya membersihkan diri sendiri lalu menyebabkan generasi penerusnya tersiksa. Bersuci adalah mengembalikan mizan pada kesempurnaan. Sebuah kesadaran untuk menjaga keseimbangan.
Ini bukan tentang macam macam air yang sah untuk berwudhu. Ini tentang sebuah peradaban yang kelak akan selalu diingat anak cucu kita. Konon kabarnya, pada zaman dahulu kala ada moyang kita yang gemar merusakkan alam. Mereka sholat mereka puasa. Tapi tidak tegak sholat itu karena tiada keseimbangan dan puasanya tidak mampu mengerem hawa nafsu. (wallahu a’lam)



Leave a Reply